Kebakaran Berlangsung Dua Hari, Titik Bara Sulit Dipadamkan
Petugas gabungan masih berjuang memadamkan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Aloppoe, Kelurahan Lapadde, Kecamatan Ujung, Kota Parepare. Kebakaran dilaporkan mulai terjadi pada Sabtu, 17 Oktober 2026 sore, dan hingga Senin, 19 Oktober 2026 sejumlah titik api masih terlihat pada tumpukan sampah di zona 3 dan 4.
Pengawas TPA Aloppoe, Safar, menyatakan pemadaman sudah berlangsung hampir dua hari dan masih terdapat titik bara di bawah tumpukan sampah yang memicu nyala api kecil. Menurutnya, titik api utama berada di bagian selatan TPA pada kawasan yang sudah dikategorikan sebagai zona nonaktif atau zona mati.
"Sekarang itu sudah menjelang dua hari. Sisa asap, tapi di dalamnya masih ada bara di bawah, masih ada titik api yang kecil,"
Struktur Tumpukan Sampah Memperparah Kebakaran
Safar menjelaskan tumpukan sampah di zona yang terbakar tersusun berlapis-lapis dan mencapai ketinggian lebih dari 10 meter. Meski luas area yang terbakar disebut kurang lebih 800 meter persegi—belum mencapai satu hektare—kondisi menumpuk membuat lokasi tampak seperti gunungan besar sehingga kobaran api mudah merambat ke lapisan bawah.
| Parameter | Data |
|---|---|
| Awal kebakaran | Sabtu, 17 Oktober 2026 |
| Pelaporan kondisi terakhir | Senin, 19 Oktober 2026 |
| Zona terdampak | Zona 2, 3, dan 4 (zona nonaktif) |
| Ketinggian tumpukan | Lebih dari 10 meter |
| Perkiraan luas area | ~800 meter persegi |
Dugaan Peran Gas Metana dan Teknik Pemadaman
Safar mengungkapkan adanya dugaan kandungan gas metana yang tersimpan akibat proses pembusukan sampah sehingga mempercepat kobaran dan mempertahankan bara di lapisan bawah. Ia menyatakan keberadaan instalasi gas metana di lokasi menambah kompleksitas penanganan.
Untuk menjangkau titik api di dalam tumpukan, tim pemadam menerapkan teknik penyuntikan air langsung ke dalam tumpukan sampah. Safar menyebut pihaknya juga berencana membongkar tumpukan sampah untuk memastikan bara terlepas dan api bisa dipadamkan secara menyeluruh.
- Deteksi dan pengawasan terhadap titik-titik bara yang tersembunyi penting untuk mencegah kebakaran berulang.
- Teknik penyuntikan air dan pembongkaran lapisan menjadi strategi utama pemadaman saat ini.
- Dugaan kandungan gas metana meningkatkan risiko dan memerlukan penanganan kehati-hatian.
Implikasi Lingkungan dan Kebutuhan Tindak Lanjut
Kebakaran di TPA menimbulkan masalah lingkungan langsung seperti polusi udara akibat asap dan risiko pemanasan lebih lanjut dalam tumpukan limbah. Selain itu, kebakaran zona nonaktif menyoroti tantangan pengelolaan sampah, khususnya penumpukan berlapis dan potensi akumulasi gas yang tidak dikendalikan.
Pemerintah Kota dan instansi terkait perlu menilai faktor penyebab, termasuk pengelolaan gas metana dan tata ulang lokasi penumpukan, agar kejadian serupa tidak berulang. Koordinasi antara pengelola TPA, dinas terkait, dan tim pemadam menjadi krusial dalam tahap pemadaman dan pasca-kebakaran, terutama untuk keamanan publik dan pemulihan lingkungan.
Tim di lapangan masih melakukan upaya penyuntikan air dan menyiapkan pembongkaran tumpukan untuk memastikan api benar-benar padam. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada keberhasilan akses ke titik api dasar serta langkah pengendalian gas yang sedang diduga berperan dalam menghambat proses pemadaman.
Reporter: Koresponden — Sulawesi Selatan, ZTL