Bengkayang, Kalbar — Upaya penyelamatan orangutan dari titik-titik terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menghasilkan evakuasi 51 individu sepanjang periode 6 Agustus hingga 10 Oktober 2026. Data lapangan yang dihimpun tim konservasi mencatat sebagian besar temuan berada di lahan bekas kebakaran dan sekitar areal perkebunan sawit.
Kronologi dan temuan lapangan
Berdasarkan keterangan dari Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), tim menemukan sejumlah besar orangutan di kawasan Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Sekitar 30 individu dilaporkan ditemui di sekitar areal perkebunan kelapa sawit milik PT KALE di Desa Laman Satong.
Evakuasi terakhir yang dicatat berlangsung pada 10 Oktober, ketika tim menyelamatkan tiga individu—Riri (betina remaja), Mama Rian dan anaknya Rian—dari lokasi yang sudah mengalami kebakaran hebat. Satu individu lain bernama Lusi ditemukan beberapa hari kemudian, pada 16 Oktober, bertahan di pohon yang masih berdiri di tengah hamparan area hangus.
"Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,"
pernyataan itu disampaikan oleh Karmele Llano Sanchez, dokter hewan satwa liar dan CEO YIARI, pada sesi rilis di Ketapang. Tim menemukan tanda-tanda cedera dan kondisi kesehatan yang memprihatinkan pada beberapa individu.
Kondisi medis dan kebutuhan perawatan
Pemeriksaan awal terhadap Lusi mengungkap beberapa luka gores serta luka terbuka pada punggung, bibir dan area anus yang diduga akibat gigitan anjing. Selain itu, Lusi mengalami dehidrasi dan malnutrisi sehingga membutuhkan intervensi medis segera.
Riri, yang diperkirakan berusia antara empat hingga enam tahun, ditemukan dalam keadaan dehidrasi dan ketakutan di atas pohon kelapa sawit, tanpa ditemukannya tanda-tanda keberadaan induk di sekitarnya. Hasil evakuasi menunjukkan kondisi tubuh yang sangat kurus pada beberapa satwa yang ditemukan di area kebakaran.
YIARI mencatat bahwa dari total individu yang dievakuasi, sebanyak 27 orangutan memerlukan perawatan lanjutan di fasilitas rehabilitasi untuk pemulihan kesehatan dan adaptasi, sebelum kemungkinan reintegrasi ke habitat yang aman.
- Periode evakuasi: 6 Agustus–10 Oktober 2026
- Lokasi utama temuan: Kabupaten Ketapang, Kayong Utara; perincian di sekitar PT KALE (Desa Laman Satong) dan Desa Riam Berasap
- Jumlah evakuasi: 51 individu
- Memerlukan rehabilitasi: 27 individu
Implikasi konservasi dan respons lapangan
Peristiwa ini menyoroti dampak langsung kebakaran terhadap satwa liar, baik berupa kehilangan habitat maupun gangguan kesehatan akut. Kehadiran orangutan di areal perkebunan menunjukkan keterdesakan satwa mencari sisa sumber makanan dan tempat berlindung di kawasan yang belum habis dibakar.
Tim gabungan yang melakukan evakuasi terdiri dari unsur yayasan konservasi dan satuan-satuan lokal yang berfokus pada penyelamatan satwa. Proses evakuasi mencakup anestesi lapangan, observasi medis awal, dan transportasi ke fasilitas rehabilitasi untuk pemeriksaan lebih lengkap dan perawatan lanjutan.
| Parameter | Angka |
|---|---|
| Jumlah orangutan diselamatkan | 51 |
| Temuan di sekitar PT KALE | 30 |
| Memerlukan perawatan lanjut | 27 |
Langkah ke depan
Peristiwa ini menuntut koordinasi lintas sektor untuk memastikan satwa terlindungi mendapatkan perawatan yang memadai dan habitat kritis dipulihkan. Selain itu, pemantauan di area rawan karhutla perlu diperkuat untuk mendeteksi satwa yang terdampak lebih awal sehingga risiko kematian dan cedera dapat diminimalkan.
Pihak-pihak terkait di tingkat daerah dan organisasi konservasi diharapkan menyusun rencana pemulihan pascakebakaran yang meliputi rehabilitasi habitat, patroli anti-karhutla, serta kampanye mitigasi konflik manusia-satwa di zona perbatasan hutan–perkebunan.
Perkembangan lebih lanjut mengenai proses perawatan dan kemungkinan reintegrasi individu yang telah dievakuasi akan diinformasikan setelah pemeriksaan medis lanjutan selesai dilakukan oleh tim rehabilitasi.
Peliputan ini didasarkan pada keterangan resmi dari YIARI dan pengamatan lapangan yang tercatat selama operasi evakuasi di Ketapang dan Kayong Utara.