Pagi itu, aula konferensi di Bali dipenuhi delegasi dan pengamat lingkungan dari berbagai negara, suasana berat oleh pembahasan masalah yang juga dirasakan di wilayah ini: menurunnya kualitas perairan, tekanan sampah plastik, serta kenaikan suhu laut akibat perubahan iklim. Di hadapan forum 11th Global Environment Facility International Waters Conference (IWC-11), Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh Jumhur Hidayat, mengemukakan empat prioritas strategis Indonesia dalam menjaga kelestarian ekosistem perairan.
Prioritas nasional untuk ekosistem perairan
Dalam pidatonya yang membuka konferensi, Jumhur menekankan bahwa air tidak mengenal batas administratif, sehingga solusi yang diterapkan harus bersifat sistemik dan lintas batas. Ia mengingatkan bahwa masalah yang dihadapi—perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, serta pencemaran, khususnya sampah plastik dari daratan—memerlukan respon yang terkoordinasi.
"Krisis saat ini menuntut lebih dari sekadar solusi yang terfragmentasi dan berbasis proyek. Sebagaimana tema konferensi ini mengingatkan kita, kita memerlukan solusi sistemik dan transformatif yang memadukan kebijakan, inovasi, pendanaan berkelanjutan, serta tata kelola yang kuat lintas batas,"
Jumhur menyatakan bahwa IWC-11 bukan hanya arena pertemuan teknis, melainkan momentum strategis untuk memperkuat aksi kolektif menjelang Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa di Abu Dhabi pada Desember 2026. Komitmen serta kemitraan yang terbangun di Bali diharapkan memperkuat agenda global pengelolaan sumber daya air.
Empat fokus aksi Indonesia
Keempat prioritas yang dipaparkan oleh Menteri Jumhur dirancang untuk menjawab berbagai tekanan terhadap ekosistem perairan. Secara garis besar, prioritas tersebut adalah:
- Pencegahan polusi — menghentikan aliran pencemar dari kawasan perkotaan, industri, dan sungai sebelum mencapai pesisir dan laut.
- Restorasi ekosistem — melakukan pemulihan yang berfokus pada hasil ekologis dan ketahanan, bukan sekadar luas area yang direhabilitasi.
- Penguatan kerja sama lintas batas — memperkuat koordinasi antarnegara dan wilayah untuk menangani masalah yang bersifat transnasional.
- Pelibatan masyarakat dan kearifan lokal — mendorong partisipasi komunitas dalam pengelolaan sumber daya air serta memanfaatkan praktik tradisional yang berkelanjutan.
| Prioritas | Tujuan utama |
|---|---|
| Pencegahan polusi | Mengurangi sumber pencemaran agar tidak mencapai ekosistem pesisir dan laut |
| Restorasi ekosistem | Meningkatkan kesehatan ekologis dan ketahanan, bukan hanya luas area |
| Kerja sama lintas batas | Koordinasi kebijakan dan program dengan negara dan wilayah tetangga |
| Pelibatan masyarakat | Memberdayakan komunitas lokal dan memanfaatkan kearifan lokal |
Dalam konteks Bali dan wilayah kepulauan lainnya, pendekatan tersebut relevan karena tekanan terhadap ekosistem pesisir terasa nyata: sedimentasi, kerusakan terumbu karang, serta infiltrasi limbah dari daratan yang mengancam mata pencaharian nelayan dan industri pariwisata.
Impetus menuju konferensi PBB
Jumhur menyampaikan harapan bahwa hasil pertemuan di Bali dapat menjadi dasar kuat untuk negosiasi dan inisiatif global pada pertemuan PBB yang akan digelar di Abu Dhabi. Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa pendanaan, kebijakan, dan tata kelola diarahkan pada solusi jangka panjang, tidak sekadar proyek temporer.
Dari sudut pandang praktis, fokus pada pencegahan polusi menuntut perbaikan manajemen sampah kota, pengawasan industri, serta pemulihan daerah aliran sungai. Sementara itu, restorasi memerlukan kriteria keberhasilan yang jelas—misalnya peningkatan keanekaragaman hayati atau fungsi ekosistem—bukan hanya penanaman vegetasi secara massal.
Forum internasional seperti IWC-11 juga menjadi panggung bagi negara kepulauan untuk berbagi praktik terbaik dan teknologi yang sesuai konteks lokal, sekaligus menuntut mekanisme pendanaan yang berpihak pada tindakan pencegahan dan adaptasi.
Seiring konferensi berlangsung, perhatian publik Bali akan tertujukan pada bagaimana komitmen internasional ini diterjemahkan ke dalam program yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi lingkungan pesisir serta kesejahteraan warga yang bergantung pada sumber daya air.
Atmosfer di lokasi menunjukkan urgensi dan peluang: para peserta berdiskusi intensif, menyusun gagasan untuk solusi kolaboratif. Bagi Bali, hasil pertemuan ini berpotensi memperkaya kebijakan lokal dan memperkuat upaya konservasi yang sudah berjalan.