Wali Kota Paparkan Sapta MULIA di Depan Praja Muda IPDN
MAKASSAR — Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, memaparkan tujuh program prioritas pembangunan yang dikenal sebagai Sapta MULIA saat menjadi narasumber pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus dan Budaya Akademik (PKKBA) bagi Praja Muda Angkatan XXXVI Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Kampus Sulawesi Selatan, di Kabupaten Gowa, Selasa (20/10/2026).
Dalam kesempatan yang mengambil tema "Kota Makassar sebagai Smart City", Wali Kota menyampaikan pengalaman kepemimpinan dan strategi tata kelola pemerintahan yang fokus pada peningkatan kualitas layanan publik, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan ekonomi perkotaan.
"Kota Makassar tetap menjadi pintu gerbang kawasan timur Indonesia, saya tidak mau Kota Makassar ini hanya menjadi pintu gerbang. Saya mau Kota Makassar ini menjadi ruang tamu Indonesia,"
Pernyataan tersebut menggarisbawahi visi pemerintah kota untuk mengoptimalkan modal geografis dan fungsi Makassar sebagai pusat perdagangan dan konektivitas di Kawasan Timur Indonesia. Wali Kota menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya mengandalkan sumber daya alam atau lahan pertanian, melainkan harus didorong melalui sektor jasa, perdagangan, konektivitas, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Data Makro dan Capaian Kota
Dalam paparan, Munafri memaparkan beberapa angka makro yang menggambarkan perkembangan ekonomi dan sosial di Makassar. Angka-angka tersebut menjadi dasar argumentasi untuk mendorong kebijakan inklusif dan berkelanjutan.
| Indikator | Angka |
|---|---|
| Luas wilayah | sekitar 175,77 kilometer persegi |
| Populasi | kurang lebih 1,4 juta jiwa |
| Pertumbuhan ekonomi | 7,04 persen (naik dari 6,61 persen kuartal sebelumnya) |
| Indeks Pembangunan Manusia (IPM) | 85,66 |
| Tingkat kemiskinan | 4,24 persen |
| Tingkat pengangguran terbuka | 9,60 persen |
Prioritas Pembangunan dan Implikasi Kebijakan
Munafri menyampaikan bahwa capaian tersebut harus diperkuat melalui kebijakan yang memastikan manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan luas. Ia menekankan pentingnya pembangunan inklusif, penguatan layanan dasar, dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi birokrasi serta kualitas layanan publik.
- Penguatan pelayanan dasar melalui transformasi digital dan manajemen tata pemerintahan.
- Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi.
- Pemanfaatan posisi strategis Makassar untuk mendorong konektivitas dan perdagangan regional.
Paparan Wali Kota di depan praja muda IPDN juga dimaksudkan untuk menanamkan konsep kepemimpinan pemerintahan yang adaptif terhadap dinamika perkotaan dan perkembangan teknologi. Keterlibatan institusi pendidikan seperti IPDN menjadi penting untuk menyiapkan aparatur yang memahami tantangan tata kelola perkotaan modern.
Sekalipun Wali Kota memaparkan data dan visi besar, penerapan program Sapta MULIA di lapangan akan menentukan sejauh mana target inklusivitas dan pemerataan manfaat pembangunan dapat tercapai. Pemantauan terhadap indikator sosial-ekonomi yang disebutkan menjadi tolok ukur keberhasilan implementasi kebijakan tersebut.
Dalam konteks regional, strategi menjadikan Makassar sebagai "ruang tamu Indonesia" menuntut sinkronisasi antar-otoritas, pengelolaan infrastruktur yang kuat, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia. Langkah-langkah konkret berupa perumusan kebijakan teknis, anggaran, dan kemitraan publik-swasta akan menjadi penentu capaian ke depan.
Wali Kota hadir untuk berbagi pengalaman serta mengajak generasi aparatur muda agar memahami peran penting kota besar dalam arsitektur pembangunan nasional, terutama di Kawasan Timur Indonesia.