Dekai, Yahukimo — Kabut asap yang berpindah dari sumber kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Papua Selatan dan Papua Nugini telah mengganggu kegiatan penerbangan di Bandara Nop Goliat, Dekai, Kabupaten Yahukimo. Fenomena tersebut menyebabkan penurunan jarak pandang sehingga menuntut koordinasi intensif antara BMKG dan pengelola bandar udara.
Pemantauan intensif oleh BMKG dan petugas menara
Forecaster BMKG Wamena, Reza Cahyo, menyampaikan bahwa asap yang bergerak dari arah tenggara mengurangi visibilitas di kawasan Dekai pada Senin, 19 Oktober 2026. Untuk mengantisipasi dinamika cuaca dan dampaknya terhadap penerbangan, BMKG melakukan komunikasi rutin dengan petugas menara Bandara Nop Goliat.
"Asap yang terbawa angin dari arah tenggara menyebabkan penurunan jarak pandang di kawasan Dekai,"
Koordinasi itu dilaksanakan setiap pagi melalui laporan situasi dan foto kondisi jarak pandang yang dikirimkan oleh petugas bandara. Informasi tersebut menjadi bahan pemantauan harian guna menilai potensi gangguan operasional transportasi udara dan memberi peringatan dini bila diperlukan.
Distribusi titik panas dan sumber asap
Berdasarkan catatan pemantauan, pada 18 Oktober 2026 ditemukan lebih dari 10 titik panas di wilayah Kabupaten Yahukimo sejak pukul 00.00 hingga 17.00 WIB. Namun BMKG menilai dampak kabut asap yang terasa di Dekai lebih banyak berasal dari kebakaran di Papua Selatan dan wilayah seberang, Papua Nugini.
Data pemantauan tanggal 17 Oktober 2026 menunjukan sebaran titik panas di wilayah Papua dan Maluku dengan rincian sebagai berikut:
- 61 titik dengan tingkat kepercayaan rendah;
- 3.948 titik dengan tingkat kepercayaan sedang;
- 203 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
| Wilayah | Titik Panas |
|---|---|
| Yahukimo (18 Okt 2026) | > 10 |
| Papua Selatan (17 Okt 2026) | > 1.000 |
| Seluruh Papua & Maluku (17 Okt 2026) | 4.212 (tercatat: 61 low, 3.948 sedang, 203 tinggi) |
Faktor yang memengaruhi penyebaran asap
BMKG menjelaskan bahwa tiga faktor utama menentukan kondisi jarak pandang di wilayah pegunungan Papua, termasuk Dekai: sebaran titik api, arah dan kecepatan angin, serta pergerakan massa udara. Asap dari sumber-karhutla bisa terbawa angin ke daerah yang jauh dan menurunkan visibilitas, sehingga memicu potensi penundaan atau pembatalan penerbangan bila ambang keselamatan tidak terpenuhi.
Dalam situasi seperti ini, otoritas bandara dan operator maskapai wajib mengikuti pedoman keselamatan penerbangan. Petugas menara dan lembaga terkait harus terus memperbarui laporan kondisi lapangan untuk mendukung pengambilan keputusan operasional.
Imbas terhadap masyarakat dan rekomendasi
Gangguan penerbangan berdampak pada mobilitas warga, distribusi logistik, dan pelayanan darurat di wilayah Pegunungan yang bergantung pada akses udara. Selain itu, kualitas udara menurun berisiko terhadap kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
- Warga dihimbau memantau informasi resmi dari BMKG dan otoritas bandara sebelum melakukan perjalanan udara.
- Gunakan masker jika berada di luar ruangan saat kepulan asap terlihat tebal, dan batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan.
- Pihak berwenang diminta memperketat patroli kebakaran dan koordinasi lintas daerah untuk meredam kebakaran yang masih aktif.
Perkembangan lebih lanjut akan terus dipantau oleh BMKG Wamena dan petugas di lapangan. Pemberitahuan resmi mengenai status operasional Bandara Nop Goliat Dekai akan diumumkan oleh pengelola bandara dan otoritas penerbangan setempat sesuai dengan kondisi cuaca dan visibilitas.
Pelaporan ini disusun berdasarkan data pemantauan BMKG Wamena serta laporan kondisi yang dikirimkan petugas menara Bandara Nop Goliat Dekai per tanggal 17–19 Oktober 2026.